Wednesday, November 9, 2016

Perkembangan Padi di Indonesia

Beras merupakan makanan pokok bangsa Indonesia. Zat gizi yang dikandung beras mudah dicerna   dan mempunyai nilai gizi tinggi.   Perb... thumbnail 1 summary


Beras merupakan makanan pokok bangsa Indonesia. Zat gizi yang dikandung beras mudah dicerna  dan mempunyai nilai gizi tinggi.
 Perbandingan komposisi kimiawi dengan beberapa pangan lainnya.

Jenis Pangan
Kadar
Protein
Lemak
K. Hidrat
Air
-    Beras pecah kulit
-    Beras Jagung Kuning
-    Ubi kayu
-    Ubi jalar
-    Kentang
8
10
1
-
2
0,6
5
0,9
0,5
0,2
76
68
37
27
21
12
15
27
64
73
              
Beras juga merupakan makanan utama di beberapa negara Asia Timur. Lebih dari 50% areal pertanian padi terdapat di Asia. Masalah pangan, khusus beras menjadi pusat perhatian serta kebijaksanaan pemerintah sebab :
1.      Beras besar peranannya dalam menentukan stabilitas ekonomi, politik dan sosial
2.      Merupakan makanan pokok (sebagian besar bangsa Indonesia)
Pertambahanan jumlah penduduk dan pergeseran makanan pokok dari nonberas menjadi beras mengakibatkan permintaan akan beras selalu meningkat.
Usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi beras ada beberapa priode :
1.      Pra–Bimas (1952 – 1963)
Untuk melaksanakan intensifikasi dibentuk suatu badan yang disebut Padi Sentra (1958) yang didukung badan lain “KOGM (Komando Operasi Gerakan Makmur)”. Masa ini merupakan cikal bakal BIMAS. Pada masa ini ditemukan Varietas unggul nasional Bengawan oleh Balai Penelitian Pertanian, kemudian disusul Varietas Jelita, Dara, Si Gadis dan lain-lain. Pada saat Pra-Bimas juga digunakan Varietas unggul lokal di tiap daerah. Kenaikan produksi pada saat ini lebih dari 20%. Padi sentra mengalami kegagalan karena lemahnya infrastruktur pada saat itu, penyuluhan tak ada. Semua tugas pelayanan dijalankan petugas padi Sentra, mulai dari pemberian kredit, bimbingan teknis hingga penarikan kredit.
2.   Priode Demas dan Bimas (1963 – 1967)
Menghadapi kegagalan padi Sentra. Depdikbud mengadakan pilot proyek yang dibiayai LKPM (Lembaga Koordinasi Pengabdian Masyarakat). Pertama dilaksanakan di Karawang Jabar (1963/1964). Pelaksana IPB dengan menggerakkan Dosen dan Mahasiswa. Peningkatan hasil pada tiga desa yang dicobakan, 36 %, 168 %, 150 %. Karena berhasil Departemen Pertanian mengadakan program DEMAS hampir di seluruh Indonesia. Pada tahun berikutnya DEMAS berubah menjadi BIMAS. Tenaga penyuluhan adalah mahasiswa pertanian di berbagai daerah.
Semakin luas BIMAS, partisipasi mahasiswa menurun, secara bertahap diganti penyuluh pertanian. Program BIMAS bersamaan dengan musibah G 30 S/PKI, program BIMAS terus berjalan. Sejalan dengan itu dibentuk KOPERTA (Koperasi Pertanian). Dalam periode ini juga dijalankan INMAS yang dilakukan tanpa bantuan kredit pada petani. Tahun 1968 diperkenalkan varietas PB5 dan PB8 (IR5 dan IR8) dari IRRI.
3.   Periode Pelita I dan II, III dan IV
Bimas makin meluas dan untuk mendukung program intensifikasi :
a.      Perbaikan Irigasi dan prasarana lainnya
b.      Perbaikan sistem dan organisasi penyuluhan
c.       Perbaikan padi
Didapat varietas unggul yang tahan hama dan penyakit utama, seperti hama wereng, varietas unggul Pelita sebagai hasil silang varietas IR oleh ahli Indonesia di LPP Bogor dan PB26 yang tahan wereng coklat oleh IRRI. Selanjutnya diperkenalkan pula varietas tahan wereng seperti PB28, PB30, PB32. Wereng cokelat mampu mengeluarkan generasi baru, varietas yang semula tahan dapat diserang. Pada tahun 1976 diedarkan PB36 dan PB38.
d.     Berkembangnya Industri pupuk nasional
e.      Didirikan Perum Sang Hyang Seri dalam rangka pengadaan benih unggul
f.        Perbaikan kelembagaan koperasi dengan dibentuknya KUD.
Pada waktu pelaksanaan PELITA, beberapa daerah rawan pangan dapat diangkat  menjadi daerah cukup pangan seperti NTT dan Gunung Kidul. Pada tahun 1985 tercapai swasembada beras.
4. Periode Setelah Swasembada
Setelah swasembada, muncul masalah baru yaitu pemerintah melalui BULOG yang tidak siap menampung kenaikan produksi, akibatnya harga turun. Selain itu beras yang dihasil petani kualitasnya rendah tidak dapat disimpan lama, sehingga petani mengalami kerugian. Masalah lain yaitu masih terkonsentrasinya daerah utama padi di Pulau Jawa. Masalah lain lagi yang juga dihadapi adalah alih fungsi dari sawah subur dan produktif menjadi lahan perumahan, industri, jalan atau ditanam komoditi lainnya. Akibatnya  Indonesia kembali kekurangan produksi sehingga perlu terobosan baru dalam peningkatan produksi.
Pada tahun 1987, diperkenalkan Supra Insus yaitu gerakan Insus dalam skala lebih luas. Paket Teknologi yang diterapkan ditambah dengan zat perangsang tumbuh. Hasilnya cukup memuaskan. Akan tetapi seperti teknologi lainnya suprainsus mengalami pelandaian peningkatan produksi, sehingga perlu dicari terobosan lain, terutama untuk daerah luar Jawa dengan irigasi skala besar.

No comments

Post a Comment

Berkomentarlah dengan sopan pada tulisan ini.